Rabu, 21 Desember 2011

Rekoleksi Kaum Berjubah

LAVERNA – Pagi ini (21/12/2011), para pastor dan biarawan/ti seluruh Pulau Nias berkumpul di Rumah Pembinaan Rohani (RUPER) St. Leopoldo. Mereka mengikuti rekoleksi bersama kaum berjubah yang diselenggarakan oleh Keuskupan Sibolga - Dekanat Nias. Selain untuk mempersiapkan batin untuk menyambut Hari Raya Kelahiran Sang Juruselamat, kegiatan rohani bersama ini juga bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar anggota tarekat religius yang ada dan berkarya di Pulau Nias (OFMCap, SVD, OSC, Praja, SCMM, CMM, FCJM, OSF, ALMA).

Rekoleksi kali ini dianimasi oleh Komunitas Biara Kapusin Laverna Gunungsitoli. Para peserta rekoleksi diajak untuk merenungkan Cinta Kasih Allah yang bersedia masuk ke dalam sejarah hidup manusia dengan menjadi manusia lemah (Sabda telah menjadi daging). Dalam prolog Injil Yohanes diungkapkan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”.

Bertolak dari prolog Injil Yohanes itu, kaum berjubah ini diajak merenungkan kebesaran kasih Allah yang hadir melalui ciptaan-Nya. Selain kekaguman atas keindahan dan keluhuran ciptaan Allah itu, P. Johannes M. Hämmerle sebagai pemimpin rekoleksi mengingatkan para peserta rekoleksi untuk tidak menutup mata terhadap bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini. Panggilan hidup religius merupakan panggilan untuk menjadi saksi hidup atas kebesaran kasih Allah bagi dunia. Oleh sebab itu, kaum religius juga dipanggil sekaligus diutus untuk memelihara karya ciptaan Allah dimanapun mereka berada.

Rekoleksi kali ini sungguh diwarnai oleh spiritualitas St. Fransiskus dari Assisi. St. Fransiskus melihat Allah dan keagungan-Nya melalui segala ciptaan-Nya. Karena itulah segala makhluk dia panggil sebagai saudara. Hal ini jugalah yang mendorong Fransiskus sangat mencintai dan menghargai alam beserta segala isinya yang sudah diciptakan Allah. Semua adalah saudara, menjadi bagian dari diri kita sendiri yang mesti dihargai, diperhatikan, dipelihara dan dicintai.

Bila spiritualitas seperti ini sungguh dihayati di dalam hidup sehari-hari, tentulah karya penebusan Allah itu semakin nyata dalam kekinian manusia. Permusuhan akan digantikan oleh persahabatan, kekerasan menjadi kelembutan, perbedaan menjadi harmoni kerukunan dan alam pun turut bergembira dan berbahagia karena tidak ada lagi pengrusakan alam.

3 komentar:

Selamat dan sukses retretnya ya, Tuhan memberkati.

Selamat utk semua imam dan calon imam...
semoga sukses dalam setiap tugas, dan tetap RENDAH HATI.
salam

Posting Komentar